diposkan pada : 15-11-2023 11:11:30

Sejarah Kiswah Jejaknya Terungkap Melalui Ibadah Umroh

Mengungkap Jejak Sejarah Kiswah Melalui Ibadah Umroh
Kiswah, sebuah penutup Ka'bah yang terkenal dengan warna hitamnya, merupakan elemen sentral dalam ibadah umat Islam, khususnya saat melaksanakan sholat yang menghadap Ka'bah. Memahami perjalanan sejarah Kiswah menjadi suatu kekhususan, dimana setiap tahunnya kain ini mengalami pergantian, disertai dengan sabuk yang menjulur hingga sepertiga bagian menutupi Ka'bah, dan tirai yang menutup pintu suci tersebut.

Kiswah dirancang dari tenunan sutra hitam, dihiasi dengan berbagai ayat Al-Quran yang dihasilkan melalui bordir benang emas dan perak. Kiswah memiliki nilai sekitar 17 juta Reyal Saudi (SR) untuk setiap pembuatannya. Panjang Kiswah mencapai 658 meter persegi, dengan berat mencapai 670 kilogram sutra murni. Proses pembuatan Kiswah melibatkan penggunaan 15 kilogram benang emas untuk proses bordir. Kain ini terdiri dari 47 potong dengan panjang masing-masing mencapai 14 meter dan lebar 101 cm. Kiswah melingkari Ka'bah dan diikatkan ke tanah melalui cincin tembaga.

Mengenal lebih jauh tentang Kiswah bukan hanya sekadar memahami bahan dan bentuknya, melainkan juga merenung pada kekayaan nilai spiritual dan sejarah yang terkandung di dalamnya. Ia bukan hanya sekadar sehelai kain hitam, melainkan saksi bisu dari perjalanan panjang keagamaan umat Islam yang terus berlanjut.

Jejak Kiswah dalam Periode Pra-Islam

Asal-usul kain yang melingkupi Ka'bah, dikenal sebagai Mengenal Sejarah Kiswah, menjadi topik yang diulas dalam berbagai literatur sejarah. Secara umum, sepakat bahwa pada era pra-Islam, mulai dari zaman Abraham hingga Nabi Muhammad, Ka'bah telah dilapisi oleh sehelai kain. Buku-buku sejarah menyampaikan konsensus bahwa tokoh-tokoh seperti Nabi Ismail (anak Nabi Ibrahim), Adnan (kakek dari Nabi Muhammad), dan Raja Tub'a dari Himyarite Abu Kariba merupakan figur yang pertama kali menggantungkan kain pada Ka'bah.

Raja Tub'a, penguasa Himyarite yang berasal dari peradaban Yaman, melancarkan serangan ke wilayah yang kini dikenal sebagai Arab Saudi, dan ia bahkan mengepung kota Yathrib yang kini dikenal sebagai Madinah. Beberapa kisah menceritakan bahwa Raja Tub'a kemudian memeluk agama Yahudi. Dalam satu versi yang tercatat oleh sejarawan Arab Ibn Hisham, Raja Himyarite ini melakukan ziarah ke Ka'bah. Dalam mimpi, ia melihat dirinya menggantungkan kain di atas struktur suci tersebut. Kain yang dijalin kasar terbuat dari bambu, sabut, dan kain berwarna Yaman dipasang di Ka'bah. Tidak hanya itu, ia juga membuat tirai untuk pintu Ka'bah yang terbuat dari kain karung berwarna hijau dan kuning serta benang Bedouin.

Kami memahami dari narasi ini bahwa pada masa pra-Islam, Ka'bah dilapisi dengan berbagai jenis kain, dan tugas serta kehormatan menutupi Ka'bah dianggap sebagai tanggung jawab para orang Arab pada masa tersebut. Pada perkembangan selanjutnya, suku Quraisy dari Mekkah mengambil alih penutupan Ka'bah, tempat kelahiran Nabi Islam. Pada periode ini, Kiswah tidak dihapus, melainkan digantikan oleh Kiswah baru yang ditempatkan di atas yang lama, kecuali jika kain tersebut menjadi terlalu berat atau basah.

Kiswah dalam Era Islam

Pada zaman Islam, Sejarah Kiswah mengalami transformasi yang lebih halus dibandingkan dengan penutup sebelumnya. Saat ini, pergantian Kiswah dilakukan pada hari kesepuluh bulan Dzul Hijjah, sekitar 20 hari sebelum Tahun Baru Islam. Kiswah terbuat dari kain sutra hitam yang dihiasi dengan ayat-ayat Islam, seperti 'Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya' dan 'Allah adalah besar', yang diukir dengan benang sutra emas. Sabuk juga melingkari Ka'bah, bersama dengan tirai untuk pintu.

Setelah penaklukan Mekah, Nabi Muhammad menutupi Ka'bah dengan kain Yaman. Khalifah yang menggantikannya, seperti Abu Bakar Siddiq, Umar Ibn al Khattab, dan Utsman Ibn Affan, menggunakan penutup Ka'bah dari kain Koptik putih Mesir, yang kemudian diganti dengan sutra oleh Muawiyah I.

Selama pemerintahan Umayyah dan dinasti Abbasiyah, Ka'bah dilapisi dengan brokat sutra berbagai warna, termasuk putih, merah, hijau, dan hitam tradisional, hingga akhirnya disepakati bahwa semua Kiswah harus berwarna hitam, sesuai dengan tradisi yang berlaku hingga hari ini.

Pasca-dinasti Abbasiyah, Raja Al Muzaffar dari Yaman menjadi orang pertama yang menggantungkan Ka'bah dengan kain. Peran ini kemudian diambil alih oleh raja-raja Mesir dan selanjutnya oleh Sultan Kekaisaran Ottoman. Kiswah baru, yang dibuat secara tradisional di Mesir, dikirim ke Arab Saudi bersamaan dengan sumbangan, jatah makanan, dan penjaga bersenjata. Dalam parade khusus yang mengenang Sejarah Kiswah, dihadiri oleh ulama dan tokoh masyarakat, kain ini diserahkan kepada pemegang kunci Ka'bah, biasanya pemimpin suku Bani Shaibi. Kiswah baru kemudian dijaga di rumahnya, dekat bukit Safa di Mekah, hingga hari pengorbanan di Mina. Saat itu, Kiswah lama dihapus, dan yang baru digantung di Ka'bah, lengkap dengan sabuk yang melingkupinya. Kiswah lama dikirim ke Sharif Mekah, penguasa kota Hashemite sebelum berdirinya Kerajaan Arab Saudi, untuk didistribusikan sebagai hadiah.

Kiswah Selama Perang Dunia Pertama

Sejarah Kiswah tercermin oleh dinamika politik selama Perang Dunia Pertama, terutama dalam konteks pembuatan kain yang biasanya diproduksi di Mesir (saat itu sebagian besar di bawah kendali Inggris) dan dikirim ke Mekah (saat itu dikuasai oleh Kekaisaran Ottoman). Sistem tradisional ini menghadapi tantangan ketika Kekaisaran Ottoman terlibat dalam perang, mendukung kekuatan sentral (Jerman dan Austria-Hungaria) melawan kekuatan Entente (Inggris, Rusia, dan Perancis).

Sepuluh hari sebelum Ka'bah seharusnya mendapat penutupan baru, Mesir mengirimkan Kiswah ke Mekah seperti biasa melalui kereta api. Namun, dengan nama Sultan Ottoman Mohamed Rashid Khan yang terpahat di atasnya, mereka memasukkan juga nama Sultan mereka sendiri, yaitu Sultan Hussein Kamil, ke dalam bordiran Kiswah. Raja Hijaz dan Sharif Mekkah saat itu, Hussein Bin Ali, menolak Kiswah tersebut dan memutuskan bahwa Kiswah lama, yang hanya membawa nama Sultan Ottoman, akan terus tergantung di Ka'bah.

Ketika Hussein Bin Ali memulai pemberontakan Arab melawan Kekaisaran Ottoman pada bulan Juni 1916, Mesir terus mengirim Kiswah seperti biasa hingga tahun 1921. Pada saat itu, konflik muncul antara pemerintah Mesir dan Sharif Mekkah. Konvoi Mesir, membawa Kiswah, bahan makanan, dan sumbangan amal dari rakyat Mesir, tiba di pelabuhan Jeddah sepuluh hari sebelum penutupan Kiswah yang baru. Namun, Sharif Mekkah menolak delegasi medis dari konvoi tersebut dan menyatakan protes dengan menyandang Kiswah sendiri.

Mendengar insiden ini, Sharif Mekkah memerintahkan agar Kiswah sebelumnya yang secara rahasia dikirim ke Madinah oleh pemerintah Turki, segera dipindahkan ke Mekah. Kejadian ini mengejutkan Mesir, dan spekulasi pun muncul mengenai asal-usul Kiswah baru ini dan bagaimana bisa tiba begitu cepat. Setelah menemukan asal Kiswah baru, Sharif Mekkah memutuskan untuk menyimpan Kiswah baru di Irak sebagai jaminan jika sengketa dengan Mesir tidak terselesaikan pada tahun berikutnya. Meskipun demikian, saat waktunya tiba, pemerintah Mesir tetap mengirim Kiswah seperti biasa, dan Kiswah Irak disimpan dalam penyimpanan.

Mengungkap Jejak Sejarah Kiswah Selama Era Kerajaan Arab Saudi

Setelah proses penyatuan Saudi oleh Raja Abdul Aziz Bin Saud dan konflik dengan penguasa Hashemite Mekah yang berakhir pada tahun 1926, Raja Abdul Aziz pertama kali melingkupi Ka'bah dengan Kiswah Irak yang sebelumnya dibuat oleh pendahulunya. Hal ini terjadi setelah Mesir menolak untuk mengirimkan Kiswah, dan tradisi mengalungkan Ka'bah dengan Kiswah Mesir dilanjutkan pada tahun berikutnya. Namun, pada tahun tersebut, Mesir kembali menolak untuk mengirim Kiswah, mendorong Raja Abdul Aziz untuk memerintahkan pembuatan Kiswah di dalam wilayah Arab Saudi sendiri, membuka babak baru dalam mengenal sejarah Kiswah.

Dalam upaya untuk memastikan kualitas dan konsistensi tinggi, Raja Abdul Aziz memerintahkan pembuatan Kiswah di dalam wilayah Arab Saudi. Kiswah yang baru ini terbuat dari baize hitam yang dihiasi dengan bordiran sutra dan emas, mencapai standar yang tinggi. Pada bulan Juli 1927, Raja Abdul Aziz memutuskan untuk mendirikan pabrik di Arab Saudi yang akan fokus pada produksi Kiswah. Keputusan ini tidak hanya memiliki makna keagamaan, tetapi juga mendapatkan signifikansi politik.

Pembangunan pabrik tersebut selesai dalam waktu enam bulan, menempati area sekitar 500 meter persegi di lantai pertama dan berlokasi di seberang Kementerian Keuangan. Ini menandai langkah penting dalam mengamankan produksi Kiswah secara mandiri di wilayah Saudi, memastikan kelangsungan tradisi ini tanpa bergantung pada pemasok luar. Kesetiaan terhadap nilai-nilai dan sejarah Ka'bah tercermin dalam keputusan ini, menunjukkan bahwa Kiswah bukan hanya sekadar penutup fisik, tetapi juga simbol dari kedaulatan dan kemandirian Arab Saudi.

Empat puluh penenun utama dan 20 pembantu, bersama dengan 12 alat tenun, tiba di pabrik Kiswah dari India pada bulan Desember 1927. Kiswah pertama yang diproduksi di Arab Saudi selesai dengan standar tertinggi, sebanding dengan Kiswah Mesir, menunjukkan penguasaan dalam seni bordir. Kain ini terbuat dari sutra hitam khusus, dihiasi dengan bordiran kata-kata suci 'Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah,' dengan tambahan kata 'Ya Allah' di bagian bawah dan 'Sang Mulia Allah' di sudut-sudut, semuanya tertulis dalam kaligrafi yang sangat indah. Kiswah ini diperhatikan dan diakui secara luas, terutama karena merupakan hasil karya dari Arab Saudi.

Pabrik ini beroperasi selama 10 tahun, menghasilkan beberapa contoh Kiswah yang sangat baik. Meskipun demikian, Mesir akhirnya kembali mengirim Kiswah pada tahun 1937 setelah pemerintah Saudi dan Mesir mencapai kesepakatan damai. Pengiriman kain berlanjut hingga tahun 1962, ketika sengketa lain muncul. Pabrik ditutup sementara namun dibuka kembali pada tahun 1977 dan terus memproduksi Kiswah.

Pabrik baru dibuka di bawah pengawasan Pangeran Mahkota Fahd Bin Abdul Aziz al Saud, mengadopsi metode produksi yang lebih modern. Pabrik ini melibatkan sekitar 200 pekerja, tidak termasuk staf administrasi, dan menggunakan teknologi terbaru untuk menciptakan Kiswah. Desain Kiswah saat ini terkomputerisasi, memungkinkan hasil produksi yang lebih cepat dan kualitas yang lebih baik.

Dengan adanya Paket Umroh Ramadhan 2023, diharapkan anggota keluarga dapat memperoleh lebih banyak pengetahuan tentang sejarah Kiswah dan masalah lainnya, termasuk keutamaan sholat di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram. Sebagai salah satu biro umroh yang telah beroperasi selama lebih dari 20 tahun, Khazzanah menawarkan program menarik yang dapat dipilih oleh jamaah, memberikan pengalaman umroh yang berkesan.
 

 

Paket Umrah Plus Jeddah bersama Khazzanah Tours & Travel

Posting by Admin

Paket Umrah Plus Jeddah bersama Khazzanah Tours & Travel

Paket Umrah Plus Jeddah bersama Khazzanah Tours & Travel kini hadir dengan penawaran istimewa! Dengan pengalaman dan izin resmi dari PPIU No. 115/2021 serta PIHK No. 2906/2021, Khazzanah Tours & Travel memastikan perjalanan ibadah Anda lebih nyaman dan aman. Keberangkatan tersedia pada tanggal 19 Oktober dan 13 November 2024. Program perjalanan be



249 Kali